-

‘Tiket Emas’ Lulusan Kampus Hukum Terfavorit, Fiksi atau Fakta?

 Rabu, 9 Mei 2018  | LintasBarat.com |  Dilihat 236 

*Nama besar kampus-kampus hukum terfavorit tetap berpengaruh dalam proses rekrutmen. Namun bukan faktor penentu.

PENDIDIKAN- Survei kampus hukum terfavorit Hukumonline bersama Youth Manual menunjukkan sejumlah kampus hukum dengan nama besar sebagai favorit firma-firma hukum besar Indonesia. Dalam peringkat 10 besar didominasi 6 kampus hukum perguruan tinggi negeri (PTN) diikuti 4 kampus hukum perguruan tinggi swasta (PTS). Para lulusan kampus-kampus hukum terfavorit ini membanjiri firma-firma hukum besar.

Ada dugaan bahwa menjadi lulusan dari kampus-kampus hukum terfavorit ini menjadi ‘tiket emas’ untuk dilirik saat tahap rekrutmen di firma hukum tersebut. Secara tidak tertulis, ada semacam prioritas bagi lulusan kampus-kampus hukum ini. Mayoritas kampus hukum terfavorit firma-firma hukum besar ini pun berlokasi di Pulau Jawa.

Di peringkat 10 besar hanya USU yang berlokasi di Pulau Sumatera. Disusul UNAND yang mengisi posisi 14 dalam jajaran peringkat 20 besar. Sedangkan Universitas Sam Ratulangi menjadi satu-satunya kampus hukum dari bagian timur Indonesia yang masuk dalam pemeringkatan ini.

Hukumonline mengonfirmasi dugaan ‘tiket emas’ lulusan kampus hukum terfavorit ini kepada beberapa partner dari firma-firma hukum responden. Masing-masing firma hukum ini telah berusia belasan hingga puluhan tahun yaitu IAB&F Law Firm (14,5 tahun), AHP (17 tahun), HHP Law Firm (29 tahun), dan Makarim & Taira (38 tahun).

Vincent Ariesta Lie, Partner pada Makarim & Taira, menjelaskan bahwa tidak ada prioritas khusus berdasarkan nama besar kampus tertentu untuk direkrut kantornya. Perekrutan dilakukan dengan sepenuhnya mengacu standar kualifikasi. “Makarim & Taira sendiri tidak melihat faktor itu (nama besar kampus, red), benar-benar melalui berkas lamaran untuk dilihat nilai-nilainya, hasil tes tertulis, psikotes, wawancara,” jelas dia.

Ketika dikonfirmasi soal fakta bahwa kebanyakan firma hukum besar didominasi lulusan kampus hukum tertentu, Vincent menilai ada banyak kemungkinan. “Mungkin mereka (lulusan kampus hukum terfavorit, red) yang kirim lamaran lebih banyak ya. Dari Universitas selain itu mungkin juga tidak punya informasi ada jenis law firm korporasi seperti Makarim & Taira,” kata Vincent lagi.

Vincent menuturkan, bahwa tidak dapat dipungkiri kebanyakan lulusan kampus hukum di luar kota-kota besar minim informasi tentang corporate law firm. “Mungkin tahunya lawyer itu litigasi, belum tentu mereka punya pengetahuan seperti lulusan UI dan UNPAD yang tahu corporate law firm dengan jumlah lawyer puluhan.”

Vincent merujuk bahwa peran jaringan senior yang lebih dulu masuk firma hukum besar sangat berpengaruh untuk menarik lebih banyak lulusan dari kampus hukum almamaternya. Apalagi jika senior tersebut adalah pendiri firma hukum. Hal ini memberikan inspirasi tersendiri untuk berkarier di firma hukum besar terkait.

Bagi Makarim & Taira sendiri, lanjut Vincent, menerapkan meritokrasi dalam perekrutan lawyer. Kandidat diseleksi benar-benar berdasarkan kecakapan dan kualitas personalnya tanpa melihat asal almamaternya.

Jawaban senada diberikan Timur Sukirno, managing partner HHP Law Firm. Soal pilihan HHP Law Firm terhadap kandidat yang direkrut, menurut Sukirno ini, semua kandidat memiliki kesempatan masuk ke tahap seleksi lanjutan tanpa terhambat dari kampus hukum mana almamaternya. “Dari hasil tes dan interview, bukan semata-mata nama kampusnya. Kita nggak lihat itu dari UI atau dari mana, langsung tes saja,” ujarnya.

Untuk pertanyaan sama soal data para lawyer HHP Law Firm yang didominasi kampus-kampus hukum tertentu, Sukirno berpendapat ada hubungannya dengan jarak ke pusat-pusat bisnis. Sehingga lulusannya lebih bisa mempersiapkan bekal kualifikasi untuk lolos tes di firma-firma hukum besar ini. Termasuk kesempatan magang langsung di firma-firma hukum tersebut selama masih kuliah.

“Kalau saya boleh berpendapat, mungkin karena lokasi kampus itu dekat dengan pusat bisnis di kota besar, atau pengalaman dosen-dosennya itu berpengaruh juga. Lebih tahu, lebih sadar isu-isunya. Kami kan lebih ke bisnis,” jelas Sukirno.

sumber. hukumonline.com

 

 

 

 

Kategori :
Bagikan: :

Komentar Facebook : ‘Tiket Emas’ Lulusan Kampus Hukum Terfavorit, Fiksi atau Fakta?

Arsip Berita

Copyright © 2018 • www.Lintasbarat.com • All Rights Reserved
Developed by AFAwebmedia
Powered by mE