-

Perempuan Bali dan Tradisi Banten

 Selasa, 9 Mei 2017  | LintasBarat.com |  Dilihat 442 

PARIWISATA - Perempuan di Bali memang dituntut banyak menguasai hal yang berkaitan dengan prosesi ritual, persembahyangan, adat dan budaya serta prosesi upacara adat sesuai tata cara Hindu.

Salah satu yang wajib perempuan kuasai adakah "Mejejaitan". Mejejaitan adalah membuat berbagai sarana persembahyangan yang terbuat dari daun kelapa atau janur, daun ental dengan berbagai pendukungnya seperti bunga dan buah.

Mejejaitan artinya menjahit bahan seperti janur untuk dibuat wadah atau sarana persembahyangan untuk membuat Banten atau sesaji, juga menjahit janur untuk perlengkapan lain dalam ritual upacara maupun saat hari raya.

"Kita perempuan di Bali memang harus tahu dan bisa mejejaitan. Kalau sebagai perempuan kita tidak bisa, kalau nanti sudah berumah tangga akan kerepotan. Kan di Hindu banyak sekali acara keagamaan dengan berbagai ritual. Jadi ya perempuan Bali wajib itu bisa mejejaitan," kata Ni Nyoman Sunita, Senin(08/05) di Denpasar Bali.

Di acara Mabesikan Festival, bersama ketiga temannya mereka membuat salah satu sesaji atau Banten yaitu Banten Pejati. BantenPejati ini dipersembahkan sebagai sarana persembahyangan di setiap gelaran acara untuk meminta keselamatan dan kelancaran.

Banten Pejati terdiri dari berbagai bahan dari bunga, buah, kelapa, berbagai rangkaian janur sebagai pelengkap. "Saya sebagai perempuan Bali tertarik dengan mejejaitan ini sudah lama, sejak kecil sudah diajari. Jadi sudah besar tinggal gampang membuatnya. Ini kan salah satu tuntutan saya sebagai perempuan yang harus melestarikan budaya Bali," kata Ni Nyoman Sunita.

Banyak perempuan Bali menilai bahwa aktivitas mejejaitan menjadi peluang bisnis bagi rumah tangga untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Perempuan Bali yang saat ini sudah setara dengan pria sudah banyak yang sibuk menjadi wanita karir sehingga selalu perhitungan waktu.

Waktu bisa dibeli dengan uang, salah satunya adalah membeli kebutuhan sarana upacara keagamaan daripada membuat sendiri yang membutuhkan waktu tenaga. Inilah yang dimaksud Ni Nyoman Sunita agar perempuan Bali mencari peluang bisnis dengan mejejaitan.

Hasil dari mejejaitan dijual ke pasaran dan tentu akan laku mengingat di Bali setiap saat terdapat upacara keagamaan yang membutuhkan berbagai sarana dan prasarana persembahyangan.

"Kalau pintar mejejaitan, kita bisa mandiri, ini kan juga peluang buat ibu-ibu untuk menambah penghasilan. Setiap saat di Bali kan ada aja upacara keagamaan, peluang besar itu," kata Ni Nyoman Sunita.

Alumni dari Sekolah Menengah Atas ( SMA ) Bina Mulia Palembang Ni Nyoman Sunita juga mengatakan, bahwa generasi muda Bali harus bisa melestarikan warisan leluhur ini di tengah perkembangan zaman.

“ Walaupun saat ini dunia canggih dengan berbagai penemuan teknologi, tapi akar budaya tetap menjadi fondasi bangsa yang harus dipertahankan”, ujarnya.

(lb/poto.yosef/dikutip dari berbagai sumber)

Kategori :
Bagikan: :

Komentar Facebook : Perempuan Bali dan Tradisi Banten

Arsip Berita

Copyright © 2017 • www.Lintasbarat.com • All Rights Reserved
Developed by AFAwebmedia
Powered by mE