-

Melewati Transisi Wilayah Baru Dengan Pendekatan Kreatif

 Jumat, 3 Januari 2014  | LintasBarat.com |  Dilihat 1829 

DITULIS OLEH : TANTAN HERMANSAH

Undang-undang memang memperbolehkan terjadinya pemekaran daerah. Apapun motivasi di balik setiap pemekaran, tetapi yang pasti daerah-daerah baru ini tidak selalu mulus melewati masa transisi menjadi daerah baru yang sukses sesuai niat/ rencana saat diperjuangkan. Tidak jarang, daerah baru yang masih merangkak malah salah urus. Akibatnya beberapa daerah terancam bangkrut karena defisit anggaran untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Contoh Kabupaten Timor Tengah Utara di Nusa Tenggara Timur sampai punya utang 23 miliar. Bahkan di Provinsi Sulawesi Tenggara defisit itu mencapai jumlah 777,9 miliar dari total 13 kabupaten. Serta yang terbaru dan menghebohkan kabupaten di Aceh yang gagal membayar gaji PNS-nya sendiri. Jika buat memenuhi kebutuhan paling dasar tidak terpenuhi apalagi buat pembangunan.

*** Dalam rangka mudik, kemarin saya bertemu dengan beberapa aktivis masyarakat dan mendiskusikan masalah pemekaran daerah saya lahir, Garut. Di mana Garut akan dibagi menjadi dua daerah yakni: KabupatenGarut dan Kabupaten Garut Selatan. Yang menarik dari diskusi dengan mereka adalah bagaimana dinamika dukungan dan anti pemekaran tersebut. Salah satu yang anti adalah bahwa kabupaten baru ini akan menghadapi beberapa persoalan dasar seperti:

(1) aparat birokrasi yang akan mengelola daerah sehari-hari. Karena, menurut para aktivis ini, banyak PNS yang tidak (akan) mau pindah ke lokasi baru dengan alasan (daerah baru tersebut) jauh;

(2) Sumber PAD kabupaten baru nanti dari mana, dari sektor apa? Maklum selama ini, tidak ada industri yang hadir di kawasan (calon) kabupaten baru itu.Serta sejumlah alasan lain yang “biasa saja”.

Masalah birokrasi dan sumber PAD memang terlihat cukup intelek. Tetapi sebenarnya persoalan bisa dipecahkan dengan pendekatan kota kreatif. Pendekatan kota kreatif umumnya hadir pada daerah yang tingkat kemakmuran atau kesejahteraannya cukup tinggi. Akan tetapi pada daerah baru, justru ini peluang untuk mengeksplorasi bagaimana pendekatan creative city ini diaplikasikan untuk menyangga daerah-daerah yang minus sumberdaya alam seperti migas dan atau industri manufaktur. Pendekatan kota kreatif jika mengacu kepada kerangka teori Richard Florida (2005) dan Charles Landry (2008) menuntut adanya komponen kreatif yang terdiri dari:

(1) Kelompok Kreatif (creative class);

(2) University;

(3) Culture; dan

(4) Teknologi.

Jika keempat komponen dasar ini diaplikasikan bagi daerah baru dan menjadi komponen penyuplai kreativitas masyarakat, maka para pemuka daerah baru itu bisa membangun rencana pembangunan pada tahap awal (5 tahun pertama) adalah sebagai berikut: Pertama-tama, pemerintah harus fokus membangun perguruan tinggi (jika belum ada), atau mengembangkannya (jika sudah ada).

Anggaran pemerintah bisa dipergunakan untuk pengembangan keilmuan di bidang yang berhubungan dengan pengelolaan manusia dan sumber daya alam sekitar. Misalnya membuka program studi Manajemen SDM dan Seni-Budaya atau Pariwisata.

Pararel dengan pengembangan universitas adalah peningkatan teknologi. Untuk ini, yang termurah adalah mengembangkan internet rakyat yang bisa saja bekerja sama dengan provider telekomunikasi yang sudah menanamkan banyak BTS di daerah tersebut melalui program CSR.

Dengan internet yang cepat, pemda baru bisa membangun kebijakan tata kelola pemerintahan yang efisien, misalnya membangun jaringan CCTV untuk komunikasi antar pejabat dan staf, sekaligus untuk mengawasi kerja, selain bisa menghemat anggaran pembelian alat-alat seperti kertas, photocopy, dan sebagainya. Selanjutnya adalah peningkatan kesehatan melalui pembangunan RSUD (jika belum ada) dan pengembangannya jika sudah ada.

Sebab indikator warga sejahtera antara lain adalah akses kepada fasilitas kesehatan. Bahkan jika perlu, program kesehatan gratis berasuransi bisa diterapkan. Pendekatan kota kreatif sebenarnya sangat memanjakan birokrasinya.

Contoh kota Bandung, kreativitas warga kemudian telah memancing pemasukan PAD yang menurut Ketua Kadin mencapai 2,5 Trilyun (tahun 2012). Lalu bagaimana korelasi antara kehadiran Perguruan Tinggi, akses murah internet, dan sarana kesehatan yang terjangkau bisa membangkitkan potensi kreatif warga? Perguruan tinggi akan berkontribusi kepada perubahan cara berfikir warga. Warga—terutama kaum muda—yang terkontruksi dalam kultur pertanian akan bertransformasi pada model pertanian baru yang industrial.

Apalagi dengan adanya akses internet yang mudah, akan memberikan informasi baru mengenai dunia pertanian mereka termasuk cara berproduksi dan memasarkan . Adapun jurusan Manajemen SDM akan memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk mengelola masyarakat dengan cara baru yang menguntungkan. Sedangkan jurusan seni-budaya atau pariwisata akan mengundang kreativitas kaum muda untuk mengembangkan potensi kedaerahan menjadi salah satu cara menggaet wisatawan.

Lalu sarana kesehatan akan memberikan jaminan kenyamanan warga dalam hal kesehatannya, terlebih untuk masyarakat yang semakin sejahtera, kebutuhan akan jaminan kesehatan sangat dipentingkan. Akan tetapi harus disadari sejak awal bahwa kota-kota kreatif seperti Bandung, Yogya, dan Bali, melakukan transformasi tersebut tidak sebentar. Memang dibutuhkan kerja keras dan kesabaran untuk memetik hasil pendekatan ini. Tetapi, dengan meletakkan visi kota kreatif, daerah bisa terhindar dari ancaman kebangkrutan. (PENULIS: TANTAN HERMANSAH - PENELITI KOMUNITAS EKONOMI KREATIF)

Kategori :
Bagikan: :

Komentar Facebook : Melewati Transisi Wilayah Baru Dengan Pendekatan Kreatif

Arsip Berita

Copyright © 2017 • www.Lintasbarat.com • All Rights Reserved
Developed by AFAwebmedia
Powered by mE