-

Diduga Akibat Panitia Penyelengara dan Panitia Pengawas Pemilu Legislatif 9 April 2014 main Mata

 Kamis, 24 April 2014  | LintasBarat.com |  Dilihat 2000 

JIKA PANITIA PENYELENGARA DAN PANITIA PENGAWAS PEMILU LEGISLATIF 9 APRIL 2014 DIDUGA ADA MAIN MATA, MAKA YANG TERJADI ADALAH, PEMILU YANG BOBROK SERTA TIDAK MENGHASILKAN PEMIMPIN YANG BERSIH.

PENULIS, Een Vakjo

LINTAS BARAT, Opini – Pemilu legislative 9 April 2014 sudah berlalu belum, baru beberapa hari saja. Tahapan demi tahapan pemilu dilalui dengan baik dan benar. Namun disayangkan dalam menjalankan proses pemilu, kebobrioklan dan kelemahan mulai terjadi. Pada saat pencoblosan, kekurangan kertas surat suara, kertas surat suara yang tertukar, penyetopan pencoblosan sepihak oleh petugas TPS, meskipun antrian warga ingin mempergunakan hak suaranya masih banyak, sulitnya saksi mendapatkan C1, diduga terjadinya pencoblosan berkali-kali oleh oknum pegawai TPS, munculnya DA1 Ganda, permainan kotor yang me3nfiotnah caleg melakukan pengelembungan suara, sehingga jumlah suara si caleg dikurangkan,  serta banyak lagi bobroknya Pemilu Legislatif 2014 di Kabupaten Bungo

Lemahnya sistem pengawasan dari Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Bungo, sehingga diduga banyak terjadi pengelembungan suara, yang dimainkan para caleg, berkoordinasi dengan petugas TPS dan panwaslucam. Sehingga mereka ( Caleg) yang seharusnya mendapatkan suara terbanyak, justru anjlok dan jumlah suaranya menurun, sedangkan caleg yang bermain mata, dan jumlah suara yang kecil, meloinjak naik secara drastis.

Modus kecurangan pada pemilu legislatif atau eksekutif sama saja. yang paling mendasar adalah siapa yang punya dana besar dan bisa memobilisasi masa, dialah yang menang. Dalam pemilu legislatif one man one vote, begitu juga dalam pemilu eksekutif satu orang mempunyai hak satu suara. Tentunya suara terbesar adalah di akar rumput alias rakyat jelata. Jadi mentri sekalipun anda hak suara anda sama nilainya dengan tukang asongan yang ada diperempatan jalan.

Umumnya modus saat kecurangan pemilu sulit dilakukan di kota-kota besar, modus kecurangan pemilu di kota besar pastinya melibatkan orang-orang yang super pintar, taktis dan penuh strategi yang jitu. Tingkat pemahaman masyarakat sudah tinggi dikota besar menjadi alasan yang utama disamping lebih kritis dan ketersediaan informasi yang bisa di akses oleh semua orang tanpa batas menjadikanmodus kecurangan pemilu sulit berkembang dikota besar. 

Oleh sebab itu ibukota RI, DKI Jakarta selalu dijadikan barometer perpolitikan nasional, Jika mampu menguasai DKI 1 maka secara teori anda bisa menguasai Indonesia. Namun faktanya tidak selalu demikian, karena team pemenangan pemilu legislatif dan eksekutif sudah memiliki orang kuat atau belum di level akar rumput ?

Modus kecurangan pemilu, team sukses harus bisa memegang pengendali di akar rumput seperti kepala desa, lurah atau RT dan RW setempat. Rakyat yang tinggal dipelosok desa hanya menurut saja dengan pemimpin dusun / desanya. Disuruh memilih partai A atau partai B ikut saja takut kalau dipersulit dalam urusan administrasi desa seperti KTP, akte kelahiran dan urusan jual beli dan sebagainya

Untuk bisa memegang team sukses diakar rumput ini butuh biaya yang tidak sedikit, karena itu demokrasi di Indonesia adalah demokrasi biaya tinggi. Setiap pilpres, pileg, pilgub, pilbup dan pilwalikota walaupun penuh modus kecurangan pemilu tetap saja semuanya butuh dana kampanye dan alat peraga pemilu yang nilainya tidaklah murah.

Selain itu memegang kendali dibagian penyelenggara pemilu (KPU) juga merupakanmodus kecurangan pemilu yang terstruktur. Ada partai peserta pemilu yang "menitipkan" orangnya sebagai panitia pemilu (KPU atau KPUD) sehingga bisa mengakses data peserta pemilu dan bisa menganalisa lebih jauh untuk pemenangan pemilu kedepan. Untuk lebih memastikan kemenangan pasangkal wakil anda di tiap TPS, pengamat pemilu, saksi maka perjalanan kemenangan akan semakin mudah.

Belum lagi sejak dibuat e-ktp oleh departemen dalam negri data yang pemilih tetap pada pemilu legislatif dan eksekutif 2014 nanti tercatat di KPU berjumlah 181 juta jiwa, sedangkan data dari Depdagri sebanyak 190 juta jiwa. Modus kecurangan pemilu makin kental setelah dilakukan pencocokan ditemukan ada 65 juta jiwa data pemilih tetap yang tidak singkron. Ada yang karena NIK yang tidak sesuai atau NIK yang kurang dari 16 digit. Sudahkan nama anda terdaftar sebagai pemilih pada pemilu 2014 nanti ?

Jadi modus kecurangan pemilu bisa dikategorikan sebagai berikut :

  1. Serangan fajar. Harus diwaspadai pemberian uang atau sembako menjelang fajar menyingsing untuk memilih partai atau caleg tertentu. Itulah modus kecurangan pemilu nan klasik yang dilakukan setiap kali pemilu. Berilah mereka pelajaran. Yaitu ambil uang atau sembakonya, tapi jangan pilih partai atau caleg yang melakukan serangan fajar. Dengan demikian, warga menunjukkan hati nurani tidak bisa dibeli.
  2. Waspadailah pemilih fiktif yang jumlahnya banyak sekali. Itu potensi kecurangan yang luar biasa. Fiktif, tapi masih tercantum dalam daftar pemilih tetap. Modus kecurangan pemilu bermacam-macam. Ada orang yang sudah meninggal, tapi dibikin hidup kembali. Ada anak kecil yang mendadak dewasa mempunyai hak pilih. Ada pula anggota TNI dan Polri, serta pemilih ganda yang namanya tercatat lebih satu kali.
  3. Pastikanlah apakah setelah mencontreng, ada tanda tinta atau tidak di jari tangan pemilih. Bahkan, lebih jauh lagi, apakah tintanya gampang hilang atau tidak. Semua yang telah memilih wajib mencelupkan jarinya ke dalam botol tinta yang tidak mudah luntur.
  4. Awasi surat suara. Jumlah surat suara yang disiapkan di setiap TPS sebanyak jumlah pemilih ditambah cadangan sebanyak 2%. Sedikit lebih peduli dalam berdemokrasi dengan mencatat jumlah kertas suara di tempat pemungutan suara masing-masing, catat pula jumlah suara yang batal, dan jumlah suara yang tidak hadir memilih. Periksalah surat suara sebelum digunakan. Jangan mau menggunakan surat suara yang sudah rusak.
  5. Penghitungan suara. Sesuai ketentuan undang-undang, pemungutan suara dan penghitungan suara dilakukan pada hari yang sama. Hanya ada waktu 12 jam untuk menghitung suara di TPS. 

Apapun itu adalah potensi untuk melakukan modus kecurangan pemilu pada pileg, pilpres dan sebagainya pada april  2014 kemarin. Jika anda berkuasa, punya dana besar tinggal dilihat saja penyebaran data yang 65 juta jiwa diatas. Eksekusi dengan meletakkan orang yang kompeten di tingkat akar rumput. Evaluasi setiap saat, tinggal dipetik hasilnya saat hajatan 5 tahunan sekali bangsa Indonesia ini

Semoga cara dan modus kecurangan pemilu legislatif dan eksekutif ini bisa menginspirasi pihak yang berkepentingan, tentunya dengan harapan rakyat makin cerdas dalam menyikapi semua ini

Semua bisa menilai, semua bisa mencermati. Apakah pelaksanaan Pemilu Legislatif 9 April 2014 di Kabupaten Bungo, dinyatakan sukses? Tentu jawabnya kita semua sudah tau. Pelaksanaan Pemilu Legislatif Kabupaten Bungo 9 April 2014, jauh dari kata suskses alias tidak sukses dan penuh dengan kecurangan. Kenapa ini bisa terjadi, ini diduga akibat main mata para panitia penyelengara Pemilu dengan Panitia pengawas Pemilu.

 

Kategori :
Bagikan: :

Komentar Facebook : Diduga Akibat Panitia Penyelengara dan Panitia Pengawas Pemilu Legislatif 9 April 2014 main Mata

Arsip Berita

Copyright © 2017 • www.Lintasbarat.com • All Rights Reserved
Developed by AFAwebmedia
Powered by mE