-

Banyak Negara Krisis Berkelanjutan Karena Utang, Indonesia Harus Berhati-Hati Terhadap ULN Swasta

 Minggu, 2 September 2018  | LintasBarat.com |  Dilihat 6250 

OPINI- Banyak Negara-negara jauh terlebih dahulu berkembang dari Indonesia, tiba-tiba mengalami krisis yang berkepanjangan. Krisis suatu Negara tersebut tidak lain adalah persoalan utang yang menumpuk. Beberapa Negara yang mengalami krisis cukup parah, seperti Negara Argentina dengan utang sebesar USD95 miliar pada November 2001, Argentina di patok sama dengan dolar AS dalam bertahun-tahun. Ternyata nilai tukar mata uang Argentina dengan mata uang asing tidak akurat, akibatnya rakyat Argentina menjadi panik dan menarik uang dari perbankan, namun ditahan oleh pemerintahnya. Pada bulan Juli 2014 Argentina dinyatakan gagal bayar (default) tidak bisa membayar utangnya kepada kreditur.

Kemudian Negara persemakmuran Amerika Serikat(AS) yaitu Negara Puerto Rico dengan utang sebesar USD73 miliar sekitar Rp.949 triliun, Negara inipun tidak mampu membayar utang obligasinya lantaran kehabisan uang tunai, dan menyatakan kalau Negara Puerto Rico tidak bisa membayar utang.

Negara Jamaika, pada bulan February 2010 dengan utang sebanyak USD7,9 miliar. Negara ini melakukan belanja anggaran cukup besar bertahun-tahun, dan tingginya inflasi menjadikan Jamaika tidak bisa membayar utangnya. Kemudian Negara Ekuador dengan utang sebesar USD3,2 miliar, pada Desember 2008, Negara Ekuador menyatakan tidak mau membayar utangnya.

Kemudian Negara Yunani dengan utang sebesar USD138 miliar, pada bulan Maret 2012, Yunani juga tidak bisa membayar utangnya senilai USD 138 miliar atau sekitar Rp. 1.794 triliun. Menambah krisis Negara Yunani dengan mendapat bantuan dari patnernya di Eropa, dengan suntikan dana (bailout) yang menjadi pemicu terjadi krisis lanjutan di Yunani.

Melihat dari Negara-negara di atas, Indonesia harus berhati-hati dengan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia. Dari data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI), ULN Indonesia tahun 2017 mencapai US$ 352,2 miliar atau senilai Rp. 4.849 triliun (kurs Rp.13.769). Bahkan Pemerintahan Jokowi mengungkapkan untuk membangun infrastruktur di berbagai wilayah di Indonesia dari tahun 2015 sampai tahun 2019, Indonesia membutuhkan anggaran sekitar Rp.5.000 triliun.

Melihat angka Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tersebut, menjadi perhatian dan ke khawatiran para pakar Ekonom Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Ekonom INDEF Enny Sri Hartati, menyebut utang tersebut, tentunya pasti tidak aman. Menurutnya, karena bunga dan cicilanya dibayar dengan “gali lubang tutup lubang”.

M.Hudry Satya/ dikutip dari berbagi sumber.

 

 

Kategori :
Bagikan: :

Komentar Facebook : Banyak Negara Krisis Berkelanjutan Karena Utang, Indonesia Harus Berhati-Hati Terhadap ULN Swasta

Arsip Berita

Copyright © 2018 • www.Lintasbarat.com • All Rights Reserved
Developed by AFAwebmedia
Powered by mE